Pharmacy 101 : Introduction

Kelas 3 SMA itu masa-masanya galau mikirin mau kuliah di mana setelah lulus, pilih jurusan apa, target passing grade, batas nilai kelulusan uan, bisa lulus sma apa ga, dll. Seakan-akan dunia akan berakhir kalau hal-hal di atas gagal dicapai. Definitely our first world problems!

Class of 2008, Faculty of Pharmacy 2008

Class of 2008, Faculty of Pharmacy 2008

Waktu SMA, selain bahasa inggris, saya cukup tertarik dengan pelajaran kimia (yeeeppp, you read it right!). Selain itu, saya juga tertarik dengan dunia kesehatan. Jadi atas dua dasar yang sangat sederhana itu lah saya dengan mantap pilih fakultas farmasi dari awal kelas 3. Agak ragu juga karena kok sepertinya ga banyak yang mau masuk farmasi. Tapi ternyata, ada satu teman sekelas saya (sebut saja Yaya) yang juga ingin mendaftar fakultas farmasi. Dan akhirnya kami mendaftar UM UGM dan akhirnya sama – sama lolos dan menjalani kehidupan perkuliahan di dunia farmasi.

Me and Yaya back in 2005

Me and Yaya back in 2005

Yang paling sering ditanyakan orang ketika saya tahu kuliah farmasi cukup itu-itu saja : kenapa ga ambil kedokteran sekalian? Farmasi ntar kerjanya ngapain sih? Jagain toko obat? Jawaban saya sih sederhana aja waktu itu : suka kimia, pengen kerja di dunia kesehatan tp ga pengen jadi dokter.

Suasana kelas saat jeda antar kuliah

Suasana kelas saat jeda antar kuliah

Sejujurnya saya waktu itu juga kurang paham, kuliah di farmasi ngapain aja. Yang saya tahu dan yakin : it is a much better choice than chemical engineering for me (soalnya kakak kuliah di tekkim dan liat bukunya aja udah males). Ga ada tuh kepikiran gugling2 atau tanya-tanya tentang apa dan gimana kuliah di farmasi, kuliahnya ngapain, ntar kerjanya ngapain, dll. Ada internet di hp palingan buat frensteran atau chat pake mxit dan mig33.

Karena kurangnya informasi itu, di awal kuliah saya sempat terkaget-kaget dengan farmasi ini. Ada juga satu titik di mana saya bingung mau kerja apa setelah lulus nanti. Ada beberapa isu-isu yang sempat membuat saya malas untuk bekerja di dunia kefarmasian. Selain itu, setahu saya waktu itu lulusan farmasi kalo ga kerja di apotek ya rumah sakit. Untuk bekerja di industri farmasi juga palingan ilmu yang kepake cuma bisa untuk kerja di bagian produksi, rnd atau quality.

Salah satu kegiatan perkuliahan di Farmasi : Praktikum

Salah satu kegiatan perkuliahan di Farmasi : Praktikum

Mindset tersebut berubah (sejak negara api menyerang) sejak saya dan teman-teman mulai masuk ke dunia kerja. Melihat pekerjaan teman-teman sejawat apoteker bekerja di bidang-bidang atau bagian-bagian yang baru saya tau ada, saya dan teman-teman di grup whatsapp pun berpikir “Kayaknya kita perlu share deh kalo kuliah Farmasi itu peluang kerjanya apa aja. Ga cuma itu-itu aja”

FB_IMG_1452355749864

Karena itulah, saya dan juga teman-teman lain berniat untuk share di blog ini tentang apa saja sih yang dipelajari di fakultas farmasi dan juga share pengalaman kita sebagai farmasis di dunia setelah kami lulus. Apa saja yang kami kerjakan, the pros and cons, dll. Tujuannya untuk menambah wawasan teman-teman yang mau masuk ke dunia perkuliahan tentang apa dan bagaimana kuliah di fakultas farmasi itu. Kami berharap tulisan kami bisa membantu adik-adik semua, baik yang masih SMA maupun yang sedang menjalani kuliah.

Jas apoteker

Untuk teman-teman yang sudah bekerja dan mau share juga tentang apa dan bagaimana kalian di masa kuliah dan sekarang saat bekerja, bisa email ke longina.narastika@gmail.com

 

Cheers!

G30S dan Cerita Lainnya

Tanggal 30 September selalu identik dengan sebuah peristiwa yang dikenal dengan istilah G30S/PKI, merujuk pada suatu peristiwa di tanggal 30 September 1965 di mana terjadi pembunuhan para Jenderal di Lubang Buaya. Sepertinya hampir semua orang Indonesia tau cerita ini, apalagi mungkin banyak diantara kita yang selalu terngiang-ngiang adegan penyiksaan para Jenderal dan juga penyiletan yang dilakukan oleh sekelompok wanita sambil menari-nari. Wanita-wanita tersebut diduga sebagai anggota Gerwani yang menarikan genjer-genjer dan penyiksa-penyiksanya diduga sebagai anggota PKI. Di post ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya bersentuhan dengan peristiwa ini melalui suatu workshop yang saya ikuti saat SMA. Note : tulisan di bawah saya buat berdasarkan ingatan, jika ada hal-hal yang sepertinya kurang tepat mohon maaf and kindly correct me.
IMG-20151003-WA0002

Continue reading

Access to Education for Diffable

I was looking for some documents in my computer folder when i stumbled upon this Global Xchange application form. What attracts me the most in the form is this question:

THINKING ABOUT YOUR OWN COMMUNITY, WHAT IS THE MOST IMPORTANT ISSUE AROUND UNEMPLOYEMENT AND ACCESS TO EDUCATION THAT MATTERS TO YOUNG PEOPLE LIKE YOURSELF?

And here’s what i wrote at that time (with some changes in grammar and add some words to make more sense in it):

Continue reading

“Literacy is not a luxury, it is a right and a responsibility”

Tidak banyak yang tau kalau tanggal 8 September dicanangkan sebagai Hari Melek Huruf Internasional(International Literacy Day) oleh UNESCO sejak tahun 1965.

Literacy is a human right. UNESCO meyakini bahwa setiap anak berhak memiliki pijakan yang kuat dalam membangun potensi dirinya lewat pendidikan, yaitu kemampuan membaca.

Dalam pidatonya pada perayaan¬†International Literacy Day¬†tanggal 8 September 1994, Presiden Clinton pun mengungkapkan bahwa¬†‚ÄúLiteracy is¬†not¬†a luxury, it is a right and a responsibility.‚ÄĚ

Faktanya, di ujung tenggara Indonesia, literacy is still a luxury. Ironis memang, ketika kemewahan bagi sekolah di Jakarta diasosiasikan dengan SPP mahal, tenaga pengajar asing, pun kelas internasional dengan fasilitas super lengkap. Sementara di pelosok negeri, sekian ribu kilometer dari Jakarta, jangankan bisa membaca, bisa duduk di bangku sekolah saja bisa jadi merupakan suatu kemewahan. Kemampuan baca tulis justru menjadi barang langka di sekolah.

Merujuk pada pidato Clinton, mari menggarisbawahi kata¬†responsibility. Buta aksara atau¬†illiteracy¬†jelas menjadi isu penting di dunia pendidikan. Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk menempuh pendidikan dasar selama 9 tahun, sehingga wajar saja jika sekolah ‚Äďterutama Sekolah Dasar‚Äď menjadi tumpuan utama sekaligus dipandang sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab atas terbebasnya anak dari buta aksara. Tentu, beban terberat ada di pundak guru, yang merupakan ujung tombak sekolah.

Tapi apa iya masalah ini hanya menjadi tanggung jawab guru?

Continue reading

HIV/AIDS

Sudah tahu kan, tanggal 1 Desember kemarin diperingati Hari AIDS Sedunia. Berbagai organisasi dan kelompok masyarakat berkampanye pada hari itu dengan banyak cara.

Sebenarnya apa dan bagaimana HIV/AIDS itu? Sudahkah ditemukan obatnya?

Apa Itu HIV/AIDS?

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;  atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik (infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tetapi dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk) ataupun mudah terkena tumor.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain.

Bagaimana virus HIV bisa menimbulkan rusaknya sistem kekebalan manusia ?

Daur hidup HIV

Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.

CD 4 adalah sebuah marker atau penanda (indikator) yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol).

Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.

AIDS

AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat¬†infeksi HIV. HIV biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti¬†sel T CD4+ (sejenis¬†sel T, limfosit yang berperan utama pada kekebalan selular),¬†makrofaga, dan¬†sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per¬†mikroliter (¬ĶL)¬†darah, maka kekebalan¬†di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS.

Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS. Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya sepertituberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.

Awalnya CDC (Centers for Disease Control and Prevention) tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya, contohnya ialah¬†limfadenopati. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut.¬†CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan¬†September tahun¬†1982, dan mendefinisikan penyakit ini.¬†Tahun¬†1993, CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per ¬ĶL darah atau 14% dari seluruh¬†limfositnya sebagai pengidap positif HIV.

Bagaimana HIV menjadi AIDS?

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:

1. Tahap 1: Periode Jendela
– HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
– Tidak ada tanda2 khusus (asimtomatik), penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
– Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan

2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
– HIV berkembang biak dalam tubuh
– Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
– Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
– Sistem kekebalan tubuh semakin turun
– Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
– Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

4. Tahap 4: AIDS
– Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
Рberbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah (termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS)

Apa gejala orang yang terinfeksi HIV menjadi AIDS?

Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak umum terjadi):

Gejala Mayor:
– Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
– Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan(yang tak dapat dijelaskan sebabnya)
– Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
– Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
– Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala MInor:
– Batuk menetap lebih dari 1 bulan
– Dermatitis generalisata
– Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
– Kandidias orofaringeal
– Herpes simpleks kronis progresif
– Limfadenopati generalisata
– Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
– Retinitis virus sitomegalo

Kasus Dewasa:
Bila seorang dewasa (>12 tahun) dianggap AIDS apabila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang-kurangnya 2 gejala mayor dan 1 gejala minor, dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

Sudahkah Ada Obatnya?

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

HIV merupakan suatu retrovirus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Penanganan infeksi HIV terkini adalah¬†terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).¬†Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun¬†1996, yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan¬†protease inhibitor.¬†Pilihan terbaik HAART saat ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut “koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau “kelas”) bahan¬†antiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah¬†nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan¬†protease inhibitor, atau dengan¬†non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa.¬†Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan¬†kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, saat memilih waktu memulai perawatan awal.

Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan. Lagi pula, dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV.Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan.

Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun. Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART. Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isu-isu psikososial yang utama ialah kurangnya akses atas fasilitas kesehatan, kurangnya dukungan sosial, penyakit kejiwaan, serta penyalahgunacan obat. Perawatan HAART juga kompleks, karena adanya beragam kombinasi jumlah pil, frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin. Berbagai efek samping yang juga menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART, antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.

Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.

Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian. Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat tentunya memerlukan penelitian yang tidak sederhana. Mungkinkah obat untuk HIV/AIDS ditemukan di Indonesia?

Cheers!

Sumber: aids-ina | wikipedia | chem-is-try.org

Hari Bumi Bersama Sanggar Anak Alam

Hi, there.. It’s me, AGAIN!!!

hahaha, mumpung masih inget nih, sekarang saya mau share tentang kegiatan saya selama bulan April kemarin. So, enjoy ^^

(psst, this is gonna be a long post and full of photo spazzing ^^)

Masih ingat dengan postingan saya yang lalu, yang saya pamit seminggu itu? Hehe, sebenernya saat itu saya berencana main ke Lombok, bersama 2 orang¬†teman saya. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya tidak jadi ikut ke Lombok ūüė•

Karena saya gak jadi ikut ke Lombok nih, otomatis saya bener2 gak ada kerjaan. Terus tiba2 keingetan kalo kemaren sempat ada tawaran untuk membantu Perayaan Hari Bumi yang diadakan oleh Sanggar Anak Alam, jadilah saya bilang bisa membantu (berhubung bener2 nganggur). Dan saya disuruh untuk nanyain siapa saja yang mau ikut bantuin. Dari sms sana sini, akhirnya ada 5 orang, termasuk saya, yang bisa membantu di SALAM.  Kelima orang tersebut adalah saya, Mbak Icha, Mazia, Ichol, Hambar (yang pada akhirnya malah ngilang, dan ada Vando yang bergabung beberapa hari kemudian). Janjian hari Jumat dengan orang SALAM, ibu Ani, untuk membahas pembagian tugas. Tapi karena saya dan temen2 belum tahu di mana letak SALAM, jadilah hari kamisnya saya main ke sana..hahaha ^^

Singkatnya, hari Jumatnya (tanggal 9 April kalo ga salah) kami kumpul di SALAM, membahas rencana hari Bumi dan pembagian tugas, setelah sebelumnya berkenalan dengan para staf di SALAM. Hari Bumi Sanggar Anak Alam diselenggarakan selama 3 hari berturut2, dimana agendanya adalah: Pameran HAri Bumi di FEB UGM (22 April), Menanam Tanaman obat di SALAM dan Diskusi dan Screening Film di LIP (23 April), dan Sarasehan Akupressure dan Bazaar murah (24 April). Saya memilih beberapa tugas, antara lain membuat display Produk Hijau untuk pameran dan Publikasi untuk Workshop. Setelah pembagian tugas, kami pun diajak melihat2 ruang2 kelas di SALAM.

FYI, Sanggar Anak Alam itu merupakan sekolah, tapi bukan sekolah konvensional. emmm apa ya istilahnya? inklusif? ya ya, mungkin inklusif. Jadi, sekolah ini didirikan oleh Ibu Sri Wahyaningsih berdasarkan keprihatinan sekolah jaman sekarang yang sangat membebankan banyak materi kepada anak-anak yang rasanya masih dalam tahap bermain. Bayangin aja nih, sekarang anak TK aja ada pelajaran B. Inggris, Komputer. Woww, saya saja kalah pintar sama anak2 jaman sekarang (berasa udah tua -__-)! Belum persaingan banyak sekolah untuk mencetak murid-murid unggulan, yang tentunya bikin si anak stress sama PR2, ulangan2. Bagus sihh mereka jadi tambah pinter, cuman apa nggak kasihan ama anaknya? IMO, waktu masih anak2 (TK-SD kelas 1-2), belajar dasar (berhitung, membaca,menulis)emang penting banget, tapi biarkanlah mereka main sepuas2nya. Karena kalo udah seumur saya yang anak kuliahan ini, bener2 ga ada waktu untuk main2 sampe puas, karena tuntutan kuliah semakin tinggi. Tapi paling gak masa kecil saya sangat bahagia kok ^^.

masih ingat permainan ini? yapp ular naga!! ^^

Oke, mulai ngelantur. Back to topic! Jadi SALAM itu kalo ga salah sih berdiri sejak tahun 2000. Awalnya cuma ada Kelompok Bermain dan Taman Anak (TK), baru 2 tahun terakhir membuka kelas untuk SD. Jadi SD nya baru ada sampai kelas 2. Guru-guru di SALAM disebut Fasilitator, dan kebanyakan adalah orang tua murid sendiri..haha, jadi anak-anaknya tetep bisa dalam pantauan orang tua. SALAM juga terbuka untuk siapa aja yang mau bantu2 jadi fasilitator, istilahnya volunteer lah. Jadi, kalo ada yang mau main ke SALAM, mereka akan sangat welcome dengan kedatangan kita ^^.

Kurikulum pendidikan di SALAM simple banget. Berhitung, Menulis, Membaca. Cuma itu? Weits, jangan salah! Walopun ‘cuma’ 3, tapi menyeluruh lhoo. Dan mereka juga langsung praktekin ilmu mereka. contohnya nihh, ketika mereka ada pelajaran masak, mereka diajarin nimbang. terus misalnya ngubah¬†dari kilo ke gram itu gimana. Seru kan?¬†Lalu ada guru bahasa inggris native juga, Bridget dan Anthony, belajar bahasa inggris sambil main. FUN!

playing ‘row row row your boat…’

Lalu ada juga ekstrakurikuler seperti berenang, gamelan, musik/orkes (they play violin! XD), catur, dll. mereka juga ada penjurusan, seperti memasak dll.

 

Oya, sekolah dimulai pukul 8.00-13.00. Waktu saya tanya kenapa, katanya memang saat pagi, tubuh baru bisa mencerna makanan dengan baik pada pukul 7, jadi SALAM sengaja memulai aktivitas pada pukul 8.00. Lalu tiap pagi mereka biasa masak air/nasi untuk dimakan bersama-sama pada siang hari.

SALAM memang sekolah yang sangat peduli dengan lingkungan. Anak-anak sudah diajari sejak dini untuk menghindari makanan-makanan yang tidak sehat. Mereka sudah diajari untuk mengenal bahan-bahan apa saja yang ramah lingkungan. Dan mereka juga belajar membuat kertas organik. Pernah suatu hari ada tamu yang datang ke SALAM dan membawa oleh-oleh untuk anak-anak. Sebelum dibuka untuk dimakan, mereka melihat dulu bahan apa yang terkandung dalam makanan itu,  apakah bahan yang baik atau tidak untuk tubuh.

membuat mainan dari bahan2 tak terpakai, menggambar dengan kertas daur ulang buatan sendiri..

Untuk membantu biaya pendidikan anak-anak di SALAM, dibuka juga warung yang menjual barang2 organik yang digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti beras merah, beras hitam, kopi, teh, sabun, dan lain2 yang kesemuanya ramah lingkungan. Beras organik ditanam oleh petani lokal, sedangkan sabun tidak mengandung minyak kelapa sawit (tahu kan, kelapa sawit berperan besar dalam penggundulan hutan tropis di Indonesia).

Hari-hari saya, selama kurang lebih 2minggu membantu pelaksanaan Hari Bumi, sangat menyenangkan. Kami bermain bersama murid-murid di SALAM dan berbaur dengan para staff dan fasilitator, dan tanpa sadar kami jadi begitu dekat.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari mereka. Setelah acara hari bumi, saya belum punya kesempatan untuk kesana. Saya benar-benar ingin main ke sana lagi XOO! Melihat betapa bebas, ceria, dan tanpa bebannya mereka membuat saya berpikir, this is the real childhood time ^^

How i really2 missed them now TT~

cheers

Untuk yang ingin tahu lebih lanjut tentang SALAM, bisa mampir ke blog mereka di http://salamjogja.wordpress.com/