G30S dan Cerita Lainnya

Tanggal 30 September selalu identik dengan sebuah peristiwa yang dikenal dengan istilah G30S/PKI, merujuk pada suatu peristiwa di tanggal 30 September 1965 di mana terjadi pembunuhan para Jenderal di Lubang Buaya. Sepertinya hampir semua orang Indonesia tau cerita ini, apalagi mungkin banyak diantara kita yang selalu terngiang-ngiang adegan penyiksaan para Jenderal dan juga penyiletan yang dilakukan oleh sekelompok wanita sambil menari-nari. Wanita-wanita tersebut diduga sebagai anggota Gerwani yang menarikan genjer-genjer dan penyiksa-penyiksanya diduga sebagai anggota PKI. Di post ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya bersentuhan dengan peristiwa ini melalui suatu workshop yang saya ikuti saat SMA. Note : tulisan di bawah saya buat berdasarkan ingatan, jika ada hal-hal yang sepertinya kurang tepat mohon maaf and kindly correct me.
IMG-20151003-WA0002

Di pertengahan hingga akhir tahun 2006, waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA. Saat itu seorang teman mengajak saya untuk mengikuti workshop mengenai kekerasan terhadap perempuan yang diadakan oleh LSM Syarikat dan Komnas Perempuan. Target peserta adalah siswa SMA dan dilaksanakan di Bandung dan Yogyakarta. Workshop tersebut diadakan selama 3 hari dan berfokus pada topik kekerasan terhadap wanita di tahun 1965. Ada beberapa hal yang paling menarik bagi saya dari sesi workshop tersebut.

“Kenapa PKI merupakan partai yang sangat populer saat itu?”

Hari itu merupakan hari pertama workshop dan kami belajar mengenai detil peristiwa 30 September. Pada saat itu Romo Bas, seorang dosen Sejarah dari Universitas Sanata Dharma, bercerita mengenai begitu besarnya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960an hingga anggotanya mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang. Saat itu saya agak heran dan bertanya,”Romo, PKI kan terkenal sebagai partai yang berimage negatif, melakukan banyak kekerasan dan lainnya. Kenapa bisa anggotanya sangat banyak? Kenapa orang-orang mau bergabung dengan partai ini?”. Saat itu Romo Bas berkata, PKI sangat populer karena ideologi-ideologi yang diusung oleh PKI dianggap berpihak pada rakyat kecil dan berekonomi lemah seperti petani dan buruh. Selain itu, PKI memiliki beberapa organisasi seperti Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Fyi, penulis Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang anggota Lekra. Beliau ditahan selama 14 tahun tanpa proses peradilan yang jelas hanya karena beliau anggota Lekra yang merupakan bagian dari PKI.

Isu Politik Dibalik G30S

Saat ini, sudah banyak laporan – laporan mengenai kejanggalan peristiwa G30S. Mengenai apakah benar PKI yang bertanggung jawab atas pembunuhan para Jenderal itu? Apakah Amerika ikut terlibat akan peristiwa ini? Mengenai kenyataan bahwa terjadi pembantaian atas sejuta warga Indonesia yang dilakukan oleh sesama warga Indonesia. Tapi, kenapa PKI yang disangkutpautkan akan peristiwa ini?

Pertanyaan serupa juga muncul di forum diskusi tahun 2007 tersebut. Romo Bas mengatakan bahwa ada teori dimana ada kecemburuan dari partai-partai lain terhadap kepopuleran PKI. Apalagi pada tahun 1965 tersebut merupakan tahun pemilu. Selain itu ada teori lain tentang ketakutan Amerika akan akrabnya Indonesia dengan negara-negara komunis. Teori lain menyatakan bahwa Soeharto merupakan dalang dibalik peristiwa ini, untuk mengkudeta pemerintahan Soekarno pada saat itu.

The Domino Effect

Romo Bas mengatakan bahwa banyak hal-hal yang ditutupi dari peristiwa itu, seperti hasil otopsi para jenderal yang tidak menunjukkan adanya luka penyiksaan atau penyiletan. Luka-luka pada mayat para Jenderal itu berasal dari goresan karena dimasukkan paksa ke sumur dan yang paling fatal adalah luka tembak. Namun pada tanggal 1 Oktober 1965 tidak ada berita ini di koran-koran karena hasil otopsi ini ditutup-tutupi dan diduga ada pelarangan untuk menerbitkan koran pada tanggal 1 itu. Hanya koran-koran tertentu yang boleh terbit. Headline di koran-koran tersebut menyulut kemarahan warga Indonesia dan menuding PKI untuk bertanggung jawab atas kematian para Jenderal dan Ade Irma Suryani.

Selama kurun waktu 1965 – 1966 dilakukan penangkapan orang-orang yang pernah terlibat dengan PKI. Ratusan ribu atau mungkin jutaan orang ditangkap, ditahan, hilang atau dibunuh selama kurun waktu itu. Berdasarkan cerita dari narasumber, bahkan dari orang yang ditangkap itu ada yang tidak melek apa itu PKI dan bahkan belum paham apa yang terjadi di tanggal 30 September 1965. Apalagi pada waktu itu belum ada sosial media atau bahkan tv. Ada orang yang ditangkap karena dituduh sebagai PKI oleh tetangganya yang iri. Ada suami yang ditangkap dan dibunuh karena orang lain menyukai istrinya, jadi dengan adanya peristiwa ini seolah-olah ada kesempatan untuk menyingkirkan suaminya. Para tertuduh PKI banyak yang ditangkap dan dipenjara hingga belasan tahun, tapi tidak sedikit yang ditangkap kemudian dibunuh. Banyak cerita-cerita dari orang-orang yang lebih tua, di mana pada masa itu sering terdengar letusan senjata dari kejauhan di tengah malam. Esok paginya, sungai-sungai berubah menjadi merah hingga ke laut dan ratusan mayat mengambang terbawa arus. Berdasarkan suatu hipotesis, para tertuduh itu ditutup matanya dan dibawa ke suatu tempat dengan truk-truk. Orang-orang tersebut diturunkan dari truk dan dibariskan di pinggir jurang atau sungai kemudian dibunuh satu persatu. And the rest is history.

Namanya Sumilah

Salah satu narasumber yang paling berkesan adalah ibu Sumilah. Ibu Sumilah ini beberapa bulan berikutnya menjadi tokoh utama dalam film dokumenter yang saya sutradarai. Ibu sumilah di tahun 1965 berusia 14 tahun. Saat itu genjer-genjer merupakan tarian yang ia sukai dan sering ia tarikan. Setelah peristiwa 30 September, ibu Sumilah ditangkap dan dipenjara selama 14 tahun, tanpa adanya peradilan yang jelas. Petugas yang menangkap saat itu menjelaskan alasan ia ditangkap adalah karena menarikan genjer-genjer, tarian yang identik dengan Gerwani yang digambarkan menarikan tarian itu sambil menyileti badan para Jenderal. Bu Sumilah bahkan tidak tau apa itu PKI atau Gerwani. Yang ia tahu, ia sangat suka tarian genjer-genjer.

Setelah 3 tahun dipenjara, Bu Sumilah diberitahu bahwa ia salah tangkap karena mempunyai nama yang sama dengan salah satu anggota Gerwani. Tapi bu Sumilah tetap dipenjara hingga 14 tahun. Akibatnya, Bu Sumilah mendapatkan tanda khusus di KTPnya yang menandakan bahwa ia eks TaPol (tahanan politik). Tanda ini menjadikan bu Sumilah tidak bisa mengikuti pemilu, mendaftar PNS, menjadi warga terasing di negeri sendiri, dihindari atau dimusuhi oleh warga lainnya. Bahkan pengasingan ini juga berlaku untuk anak cucunya, hingga Gus Dur menghapuskan peraturan ini di masa pemerintahannya. Sumilah-Sumilah lain bahkan ada yang lebih tidak beruntung, seperti mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Rusia/Eropa atau di Cina. Setelah peristiwa 30 September, mereka tidak bisa kembali ke Indonesia dan terkatung-katung di negeri orang dan akhirnya terpaksa berubah kewarganegaraan.

“Kamu ga takut pulang nanti ga selamat karena membuat film ini?”

Setelah 3 hari mengikuti workshop kami membuat suatu draft singkat mengenai film dokumenter seperti apa yang akan kami buat. Dari draft tersebut, diambil 3 yang akan dibuat menjadi film dokumenter dan draft saya salah satunya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya mengangkat kisah bu Sumilah. Selama hampir sebulan proses produksi dan editing, akhirnya screening film kami diselenggarakan. Waktu itu saya cukup terkesan karena yang hadir cukup banyak. Di sesi akhir, saya dan kedua sutradara lainnya, Monik dan Tyo diundang ke panggung untuk sharing terkait film kami dan juga dilakukan sesi tanya jawab. Salah seorang hadirin mengajukan pertanyaan yang membuat kami yang saat itu masih SMA terdiam. “Keluargamu ga khawatir kalian membuat film ini? Kamu ga takut pulang nanti tiba-tiba ada yang nyulik karena bikin film ini?”. Kalau dipikir-pikir, pertanyaan ini sangat masuk akal. Kami membuat film dari isu yang masih sangat sensitif, meskipun saat itu sudah bukan orde baru lagi. PKI masih memiliki stigma negatif di masyarakat, bahkan hingga saat ini. Bahkan mungkin masih ada orang-orang yang tidak mengetahui fakta bahwa ada pembantaian terhadap hampir satu juta jiwa di balik peristiwa 1965. Hal ini bisa jadi karena bahkan sejak SD kita didoktrin lewat buku sejarah dan film dan saya yakin amat susah untuk dihapus. Sebegitu mengerikannya kah pengaruh sejarah? Hanya dengan membaca kita bisa merasakan kebencian yang amat besar terhadap hal yang tidak kita alami sendiri dan bahkan belum jelas kebenarannya.

Di 10 tahun yang akan datang, bagaimana masyarakat Indonesia akan melihat peristiwa G30S ini?

History is written by the victors.” – Winston Churchill

Cheers!

You might want to watch or read :

The Act of Killing (2012) – Joshua Oppenheimer

Years to Live Dangerously (1982) – Peter Weir

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965–1966

http://asia-ajar.org/the-act-of-living-a-photo-exhibition-of-women-survivors-of-indonesias-violence-in-1965/

Go educate yourself!😉

7 thoughts on “G30S dan Cerita Lainnya

  1. Trims udah berbagi! Tau nggak, I consider myself lucky karena meskipun besar di zaman Orba, nggak pernah sekalipun aku nonton film G30S/PKI. Orang tua melarang. Kata mereka: jangan, sadis, tidak pantas untuk anak-anak. Guru-guruku di Kalimantan dan Sumatra juga tidak pernah memaksa. Tapi anak-anak lain ada yang dibiarkan atau bahkan ditugaskan/dipaksa nonton. Buatku, aku ‘beruntung’ karena jadinya tidak pernah terdoktrin oleh film tersebut. Iya, pelajaran di sekolah ada, tapi ‘untungnya’ kurikulum Indonesia yang menitikberatkan menghapal fakta-fakta seperti tanggal-tanggal saja untuk ujian tidak membuat aku ‘menelan’ dan meyakini begitu saja isi buku pelajaran sejarah.

    Malah lebih riil rasanya mendengarkan cerita-cerita dari guru-guru yang sempat hidup di zaman itu. Terasa ada hal-hal yang mereka tidak tega atau berani sampaikan. Hanya seorang guru asal Aceh pernah bercerita jelas di depan kelas: waktu kecil, di kampungnya, dia melihat seseorang yang dituduh PKI, ditemukan bersimpuh di pinggir sungai dengan leher menganga, belum mati. Guruku lantas diam, merenung. Tidak cerita apa-apa, tidak menyimpulkan apa-apa. Saat itu bukan zamannya dia bebas bicara.

    Sedih kalau justru sekarang, melihat anak-anak muda yang bahkan belum lahir atau masih bayi merah di zaman Orba, ternyata mengulang-ulangi apa yang diajarkan Orba kepada kami ‘anak-anaknya’ dengan tidak kritis. Mungkin mereka dapat dari orangtua mereka yang, tidak seperti saya, rajin menonton G30S/PKI dan meyakini betul isi buku pelajaran zaman Orba.

    • Thanks for sharing juga kakak!
      Well, dulu mungkin banyak orang takut untuk membicarakan hal ini ya.. tabu atau juga takut disangkut pautkan dengan PKI..
      kalo sekarang, mungkin masih kebawa jaman pak harto yang setiap tanggal 30 september wajib mengibarkan bendera setengah tiang. Atau bisa jadi kurang update dengan perkembangan sejarah ini. Entahlah. Sekarang sih sudah banyak yang mulai terbuka wawasannya, apalagi dengan mudahnya share link2 berita di medsos.

      Aku sendiri masih belum tau siapa yang salah atau siapa yang paling bertanggungjawab dalam peristiwa ini, yang pasti korban di 30 September 1965 itu ga cuma 8 orang, tapi lebih dari 500 ribu rakyat indonesia.

      Aku juga ga pernah nonton film itu. Dan jujur sebelum aku ikut workshop itu aku cenderung cuek dengan peristiwa ini. Mungkin sampai sekarang juga masih banyak orang yang sama cueknya dengan aku dan belum menemukan ‘workshop’nya masing2😉

      • Iya, semoga makin banyak yang pikirannya terbuka ya🙂 Betul, seandainya itu hanya konflik internal tentara dan tidak menyeret korban yang konon sampai menyentuh angka jutaan, mungkin aku masih bisa angguk-angguk. Tapi ini, sudah merenggut nyawa dan membuat begitu banyak orang menderita, efeknya pun terasa sampai sekarang. Ngeri!

  2. Bagus sekali tulisannya, dan pengalamannya luar biasa. Saya dulu termasuk yang selalu diwajibkan nonton film G30S PKI selama SD, dengan alasan “untuk dibuat PR mengarang.” Tapi, sebagai anak kecil, saya selalu bertanya-tanya, dan kemauan bertanya-tanya inilah yang mendorong untuk lebih banyak membaca dan tidak termakan propaganda begitu saja. Bahkan memberi ruang untuk membahas sejarah gelap negara ini saja aparat masih tidak mau. Baru-baru ini malah Ubud Writers and Readers Festival yang rencananya diadakan tanggal 23 Oktober dan menampilkan pameran, pemutaran film dan diskusi terkait peringatan 50 tahun sejarah ‘pembersihan komunis’ dibatalkan karena tekanan dari aparat setempat. Sampai masuk media Guardian segala. Seolah kita masih enggan belajar dan menjadi dewasa.

    • Hai mba putri!
      Thanks komentarnya.. tahun ini saya cukup takjub dengan media2 yang menuntut negara meminta maaf ke korban2 post 30 September.. semakin banyak juga orang2 yang dulunya tidak tau sekarang menjadi tau, berkat blog2 dan sosial media..banyak orang juga yang semakin berani mengutarakan pemikirannya.. tapi sayangnya banyak orang yang cuek atau malah dibutakan dengan apa yang mereka tau dan yakini, jadinya ya penutupan paksa diskusi2 terkait komunis itu.. jadi ingat film jagal karya joshua oppenheimer yang banyak pemutarannya di kampus2 dibatalkan paksa karena isu komunis itu.. ini mirip seperti kasus nazi di jerman mungkin, banyak orang sana yang menyangkal kontribusi jerman di ww2, tapi banyak juga yang mengakui bahwa jerman memang pernah punya andil besar selama ww2..

      hmm, semoga nantinya negara kita menjadi semakin dewasa ya mbak..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s