Teman-teman di Helen Keller Indonesia

Tika, ak di HKI. Mba Lia tanyain km, ak bilang km kuliah🙂

Sebuah SMS masuk ke HP saya dari Denty. Dan sontak sms tersebut mengingatkan sebuah tempat bernama Helen Keller Indonesia.

Helen Keller Indonesia (HKI) adalah sebuah yayasan yang didedikasikan untuk anak-anak dengan kelainan ganda. Di Jogja, HKI yang terletak di daerah Wirobrajan merupakan sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) G/AB dengan sistem asrama. Anak-anak yang belajar disana umurnya berkisar 5-18 tahun.

Tahun lalu, sambil menunggu program GX dimulai, Denty mengajak saya ke HKI. Seharusnya HKI masuk dalam daftar tempat kerja untuk program kami, namun berhubung program kami baru di mulai saat mereka sudah libur, maka HKI tidak jadi calon tempat kerja kami. Sebelumnya, Denty sudah sering ke tempat ini dan ikut membantu mengajar. Sampai di sana kami ikut belajar di sebuah kelas dengan seorang pengajar dan 3 orang anak didik. Rupanya hari itu sedang diadakan ujian akhir semester. Di kelas itu masing-masing anak didik menyelesaikan puzzle atau menyusun mainan balok sesuai ketentuan. Untuk kita, mungkin hal itu sangat mudah dan bisa diselesaikan dalam beberapa detik saja, tapi karena anak-anak tersebut adalah anak dengan kelainan ganda, maka mereka membutuhkan usaha dan konsentrasi yang lebih untuk menyelesaikannya. Disinilah peran Ibu Pengajar, beliau pun dengan tegas menyuruh si anak untuk lebih berkonsentrasi lagi, dan juga menyemangati sang anak bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas itu. Belum kalau ada anak yang ngompol atau tiba-tiba mogok mengerjakan tugasnya.

Memang pelajaran yang diberikan bukanlah Matematika, IPA, IPS dan kelasnya pun bukan kelas 1, 2, 3 atau SD, SMP, SMA. Kelasnya di bagi berdasarkan kesamaan kemampuan satu anak dengan anak lain. Penamaan kelas pun seperti tokoh-tokoh dunia yang mempunya kelainan seperti mereka dan bisa berprestasi di berbagai bidang, seperti Helen Keller, dll. Pelajarannya lebih ditekankan pada ketrampilan dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di masyarakat nantinya dengan mandiri. Kata Denty, mereka diajari cara membeli barang-barang di warung. Selain itu ada pelajaran renang, musik, motorik, dll. Untuk yang sudah lebih dewasa, mereka belajar menulis, membaca, berhitung, mengetik, dll.

Saat makan siang adalah saat yang cukup chaos. Sebelum makan, seorang anak akan memimpin untuk berdoa bersama. Beberapa anak yang sudah cukup mandiri ikut membantu menyiapkan piring, gelas, dan sendok. Para pengajar menyiapkan makanan dan mengajak anak-anak ke ruang makan. Saat makan, anak-anak tersebut melakukan semuanya sendiri, mulai dari mengambil nasi, sayur, lauk, sampai makan. Anak-anak yang masih kecil kadang sulit untuk makan sendiri, tapi mereka berusaha untuk bisa menghabiskan makanan itu.

Oya, selain makan siang, ada juga waktu minum susu dan istirahat. Menjelang waktu minum susu, anak-anak yang tugas piket membantu mencuci gelas dan mengeringkan gelas-gelas itu. Sedangkan Bapak Pengajar memasukkan susu ke dalam gelas, karena susu untuk tiap anak berbeda jenis, sesuai yang diberikan oleh orang tua mereka.

Waktu istirahat, semuanya bermain di luar. Bermain mainan yang ada di halaman sekolah atau sekedar duduk-duduk atau jalan-jalan. Di sinilah saya mulai berkenalan dengan anak-anak HKI. Dan Denty pun menceritakan beberapa cerita tentang anak-anak itu, dan beberapa ceritanya sangat menyedihkan. Saya pun mengenal Mbak Lia, salah satu murid tertua di sekolah itu. Dengan senyum lebarnya, Mbak Lia selalu menggandeng tangan saya dan mengajak saya jalan-jalan di HKI.

Selesai jam sekolah, semua murid pun mandi bergantian. Yang sudah bisa mandi sendiri membantu anak-anak yang belum bisa mandi sendiri. Setelah itu waktunya tidur siang. Dan saya dan Denty pun undur diri dari HKI untuk pulang ke rumah kami.

Setelah satu tahun berlalu, saya cukup terkejut bahwa Mbak Lia masih mengingat saya. Hal itu membuat saya sedikit terharu karena mereka masih mengingat saya walaupun saya hanya sekali ke sana dan saya pun tidak terlalu membantu. Pengalaman berkunjung ke HKI benar-benar membuat saya sangat bersyukur atas hidup saya yang sangat berlebih dibandingkan mereka. Bahkan saya masih sering mengeluh tentang diri saya, padahal teman-teman di HKI bersemangat belajar di sana dan pantang menyerah.

Yang membuat saya terkesan juga adalah dedikasi para pengajar di HKI. Walaupun mereka mengajar dengan ketegasan dan disiplin tinggi, namun mereka juga melandasinya dengan kasih sayang, seperti dalam kutipan berikut ini:

Kehadiran anak berkelainan ganda di keluarga bukan aib, tetapi sebuah ujian cinta kasih, dan keberadaan di masyarakat merupakan tantangan untuk mencari sebab serta mengatasinya dengan mengerahkan akal budi dan tenaga untuk membawa anak-anak cacat itu maju.

Nama SLB Helen Keller Indonesia diambil dari sejarah anak yang menderita buta-tuli asal Amerika, yang berhasil memperoleh gelar kesarjanaan di bidang ilmu bahasa dan menjadi penulis berkat ketekunannya, dibawah bimbingan gurunya, Anne Sulivan, yang juga menderita low-vision.

Betapa pentingnya peran guru bagi Helen Keller hingga dia meraih gelar sarjanan sekitar tahun 1904. Kisahnya begitu menarik, pantang menyerah dan berjuang menggapai dunia dalam keterbatasannya sebagai orang cacat.

 

Semoga kisah teman-teman di Helen Keller Indonesia dapat menginspirasi kita semua🙂

Cheers!

PS: Thanks Denty, for taking me there. Kapan-kapan ke sana lagi yuk🙂

Kutipan diambil dari sini.

9 thoughts on “Teman-teman di Helen Keller Indonesia

  1. Dear Friends,
    Thanks very much …. for all
    Oh ya, alamat kami di Jl, R.E. Martadinata No. 88 A, Wirobrajan, Yogyakarta
    Telp : (0274) 618089

    With love
    Sr. Stanisla PMY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s