Jakarta Itu Keras, Bung! -Part 2-

Hei, ini adalah lanjutan cerita saya sewaktu di Jakarta. Postingan yang membutuhkan waktu lama untuk selesai ini akhirnya jadi juga, hahaha.. Langsung saja ya…

First Timer Medical Check Up

Hari Senin paginya, kami harus bangun pagi-pagi benar karena Taksi sudah menunggu kami pukul setengah 8 untuk mengantar kami ke Manggala Wanabakti. Setelah sarapan, kami pun berangkat menuju Manggala Wanabakti yang terletak di kompleks Departemen Kehutanan untuk melakukan Medical Check Up. Buat apa sih Medical Check Up?? Yapp, Medical Check Up (MCU) dibutuhkan untuk melengkapi dokumen Global Xchange, seandainya terdapat masalah2 kesehatan dapat dideteksi sejak dini sebelum program dimulai.

Sesampainya di Manggala Wanabakti, setelah sedikit bingung yang mana tempatnya, kami pun langsung menuju lantai Dua. Saya pikir Manggala Wanabakti adalah sebuah Rumah Sakit, ternyata hanya tempat khusus untuk MCU, semacam laboratorium seperti Pramita atau Hi-Lab kalo di Jogja. Saat kami datang sekitar pukul 8 pagi, Manggala Wanabakti masih sangat sepi. Saya pikir hanya kami saja yang melakukan MCU, tapi ternyata saya salah. Semakin siang semakin banyak yang datang untuk tes. Dan rata-rata mereka melakukan MCU sebagai syarat kerja. Whoaaa, berarti kapan2 saya harus siap untuk MCU lagi nihh ^^”

Sampai di lantai Dua, kami mendaftar di bagian resepsionis dan langsung disuruh mengisi form setebal buku tulis dan dalam bahasa inggris. Pheew.. Halaman pertama masih wajar: nama, alamat, alamat kantor, dsb. Nah, mulai halaman selanjutnya, saya mulai pusing mengisinya.

 Apakah anda pernah menderita penyakit berikut?

Guess what, daftar penyakitnya ada sekitar 40, mulai dari sembelit sampai jantung. Untung ada terjemahannya. Bayangin aja kalo ga ada panduan terjemahannya, bisa2 saya yang bahasa inggrisnya rada jongkok salah menjawab -__-” Lalu masih banyak pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab seperti gaya hidup (porsi makan, merokok/tidak, minum alkohol/tidak), family history (apakah ayah/ibu ada yang menderita penyakit tertentu), ada juga pertanyaan khusus untuk perempuan (menikah/tidak,Pernah melahirkan/tidak, siklus menstruasi, dll), dan pertanyaan imunisasi apa saja yang sudah pernah dilakukan. Menjawab pertanyaan harus benar2 jujur, tidak asal2an, dan kalau lupa lebih baik tidak usah diisi (kata petugasnya sih). Selanjutnya, buku tadi dikumpulkan dan kami di ajak ke kamar ganti untuk mengganti dengan baju perikasa (err, namanya apa ya? kaya jubah mandi gitu dehh :D). Selesai ganti baju, kami lalu  memulai ekspedisi kami di Manggala Wanagama. Sistem pemeriksaan nya adalah tiap kamar untuk pemeriksaan tertentu, seperti pos-pos waktu kemah pramuka dulu ^^. Tesnya mirip2 waktu saya praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia semester 1 dulu. Bedanya yang dulu ga valid karena bukan dilakukan oleh Profesional. Dan, ekspedisi dimulaiii..

Tes 1: Darah dan Urin : Masih ingat kan, malam sebelum MCU kami diharuskan berpuasa. Yapp, alasannya adalah supaya gula darah kami dapat diukur dan dibandingkan antara darah puasa dan darah setelah makan apakah terdapat kenaikan yang tinggi atau tidak. Saya sih ga begitu takut untuk ambil darah (sombooong), saya malah takut waktu ambil urin nanti urin saya ga keluar atau malah salah sasaran dan ga masuk botol LOL😀. Dan berhubung kami bersepuluh pluuus ga cuma kami yang MCU, maka antrian panjang pun terbentuk. Karena antri, saya disuruh mengumpulkan urin dulu. Tapi sama saja, karena kamar mandi hanya dua dan ga cuma saya juga yang mau ambil urin. Temen saya (cewek, saya lupa siapa) sampe2 rela pake kamar mandi cowok, biar ga lama. Sewaktu antri kamar mandi, saya sampe lompat2 atau lari2 memacu keluarnya urin saya dan biar saya ga kelamaan di kamar mandi nanti. And it WORKS hahaha *tawa kemenangan*. Lama kemudian, akhirnya tiba giliran saya masuk kamar mandi (kamar mandi wanita fufufu~) dan saya dengan sukses menampung urin *horee*. Lalu saya antri untuk diambil darah (wahana ambil darah LOL, masih ingat?). Akhirnya tiba giliran saya. Nothing special, pengambilan darah berlalu begitu saja. Setelah pengambilan darah, seharusnya saya langsung ke ruang makan untuk sarapan , tapi saya menunggu beberapa teman saya yang sedang giliran ambil darah karena saya malas sendirian ke ruang makan. Semua juga berlalu begitu saja, hingga tiba giliran Mbak Denis. Dari awal sewaktu ambil suntik, Mbak Denis sudah tidak tenang karena katanya ia takut disuntik. Ketika teman lain dapat giliran suntik malah Mbak Denis yang merasa kesakitan. Sewaktu gilirannya disuntik, darah tidak mau keluar. Katanya karena Mbak Denis tidak tenang. Lalu jarum suntik diambil dan dipindah dari siku kanan ke siku kiri. Saya hanya tau kejadian sampai situ karena saya sudah berada di ruang makan setelahnya. Ternyata, suntikan baru sukses setelah suntikan ketiga.. huweee >,<

>Ruang Makan:  Pikir saya waktu itu: “Horeee akhirnya saya makan juga XDD” Tapi ternyata makanannya hanya roti tawar dan selai saja..huhu, perut indonesia saya kalo belum makan nasi artinya belum makan >,< Sewaktu makan, petugas datang dan mencatat waktu kami makan. “satu setengah jam lagi ambil darah ya,” katanya. Huweee, ternyata sarapannya hanya kedok supaya kenaikan gula darah kami diketahui.. huhu, pantes cuma makan roti tawar >,<

> Tes 2: Rontgen: Seharusnya, setelah makan saya cek tekanan darah, Berat dan Tinggi Badan. Tapi ketika saya melewati ruang Rontgen (yang awalnya saya pikir ruang untuk pemeriksaan gigi -__-a) ternyata sudah sepi. Yasudahlah, disini dulu saja. Masuk di ruang rontgen, saya dengan sok tahunya langsung pasang badan di depan alatnya. Tapi ternyata saya malah disuruh duduk dulu. Dan begitu saya duduk lampu langsung dimatikan. Ternyata film untuk mencetak gambar harus diisi ulang. Di kegelapan saya ngobrol dengan ibu petugas. Ibu petugas menanyakan tentang kenapa saya bisa mengikuti program Global XChange (yang nantinya pertanyaan ini selalu ditanyakan disetiap tes yang saya jalani. Wondering, apakah semua teman saya ditanyakan hal yang sama, atau ini hanya pertanyaan basa basi saja hehe~) dan saya pun menjawab seadanya. Akhirnya lampu dinyalakan dan barulah saya disuruh menempelkan badan di alat rontgen. Si Ibu keluar ruangan, “ambil napas.. tahan.. lepas.. yak sudah selesai, Mbak” Udah? Gitu aja? Dan Saya keluar ruangan. Ga kerasa..

>Tes 3: Tensi, Berat Badan, Tinggi Badan, Ketebalan Lemak:  Errr, let’s skip this part.. hehe, normal kokk semua. Masih normal ^^”

>Tes 4: ECG (Electro Cardiograph) alias pengukuran detak jantung. Entah kenapa saya kok deg2an ya waktu tes yang ini. Apa karena suara pip pip pip nya itu? hoho..

>Tes 5: Mata : naahh, ini nihh yang saya agak takut. Takut minus saya nambah >,< males banget dehh kalo udah nambah . FYI, saya udah pake kacamata dari awal SMA (dimana seharusnya saya udah pake dari SMP). Minus saya, setau saya, saat ini minus 3 dan 3,5 saya lupa yang kiri atau kanannya. Dan saya tidak silindris. Begitu masuk ruangan, saya disuruh duduk oleh petugas dan beliau meminta saya melepas kacamata untuk diukur minusnya (ooohhh, bisa gitu yaa?? baru tau..). “Wah Mbak, lensanya baret2 nih. Susah ngukurnya.” Doeeeng, maaf ibuuu.. itu kacamata dari kelas 2 SMA, dan belum pernah ganti. Lensanya pun masih yang itu2 juga dari dulu. Saya ganti kacamata dulu juga karena kacamata saya patah jadi dua waktu di pantai. Dan si ibu bilang “Mbak, mata yang kanan minus 2 silindris 1 dan yang kiri minus 3.5 silindris seperempat ya”. HAAAAAA??? 2? silindris? kok saya gatau? ga kerasa pula -__-.. Lalu saya mengukur minus saya sekarang. Lalu diketahui bahwa sekarang mata kanan minus 2.75 silindris 1 dan mata kiri saya 4.25 silindris 0.5.. huhuhu

ibu petugas: mbak kacamatanya sering dipakai gak?

saya: iya bu

ibu petugas: kok beda minusnya banyak ya? sering liat sambil nutup mata kiri?

saya: ahh, enggak tuh bu? *mikir: emang saya hobi ngedipin orang -__-*

ibu petugas: mata kirinya jangan dimalaskan ya

saya: ha? dimalaskan? *baru tau mata bisa malas* iya bu.. *bingung, gimana caranya biar ga malas?*

>Tes 6: Pemeriksaan Umum: ummm, biasa saja.. ditanyain ada keluhan apa. Form yang ditulis paginya dilihat. Oya, saya dimarahin karena BAB ga tiap hari hehehe ^^”

>Tes 7: Audiometri (Tes Pendengaran): Sebelumnya sewaktu di ruang tunggu, saya bertanya pada seorang bapak, yang juga sedang antri MCU dan sepertinya sudah sering MCU, tes pendengaran itu seperti apa. Kata Bapak itu: “Nanti pake headphone, terus ada suara ‘tut tut’ gitu, terus ntar kalo denger suara pencet tombol. Tapi bener2 harus konsentrasi, soalnya suaranya kecil banget, dan makin lama makin ga kedengeran. Terus kadang2 ragu juga, itu ada suaranya gak” Dan tes ini seperti yang diceritakan si bapak tadi.. Harus konsentrasi penuh!

>Tes 8 : Dokter Gigi: Ini tes favorit saya, bukan apa2, Dokter Giginya baiiik banget. Katanya sih gigi saya bagus, cuma gigi bungsu harus dicabut/dioperasi karena tumbuhnya miring.. huweee >,<

>Tes akhir: Cek darah: Cek darah lagi! Kali ini giliran tangan kiri saya yang di cek darah. Sama seperti awal tadi, cuma lebih sakit, gatau kenapa. Huhu.

British Council Office!

Setelah selesai, kami lalu ganti baju dan berkumpul di ruang tamu. Tujuan berikutnya adalah kantor British Council! Di dalam Taksi, kami mengatakan pada Pak Sopir tujuan kami.

Kami: Pak BC office ya..

Pak Sopir: emm, di daerah mana ya?

Kami: Indonesia Stock Exchange Building, Pak. Daerah Sudirman

Pak Sopir: Oke, nanti dicari. Ikuti taksi depan saja ya

Lalu kami mengikuti taksi yang lain. Tapiiii, yang namanya taksi di Jakarta itu warnanya biru semua. Begitu sampai di suatu jalan kami bertemu lebih dari 5 taksi, dan kami ngga tau harus mengikuti taksi yang mana. Entah bagaimana Pak Sopir berinisiatif untuk menuju ke Gedung Bursa Efek Indonesia (BEJ/BEI). Dan ternyata benar, Indonesia Stock Exchange = BEI.. Hadooh, ribet amat sih? Tapi saya beruntung, taksi kami ga salah gedung. Kayaknya satu taksi nyasar ke gedung lain deh, kalo ga salah taksinya Mb Icha, Mazia, dan Yogi. BEI itu sangat ramai (udik mode: on), dan masuknya juga harus diperiksa tas, dan harus melewati detektor. Mau masuk juga harus menukar KTP/Tanda Pengenal dengan kartu pass yang digunakan sebagai ‘kunci’ supaya bisa melewati portal. Entah kenapa, saat itu rombongan kami cuma disuruh menukar 1 tanda pengenal saja. Dan Satpam British Council, Pak Untung, sudah menyambut kami untuk memandu kami menuju kantor BC. Fiuuhh, ribet bener..

Kantor British Council terletak di lantai 16. Setelah melewati lantai World Bank, dan kantor2 lain sewaktu naik lift, akhirnya tibalah kami di lantai 16, kantor BC. Lagi2 sewaktu memasuki kantor BC, kami harus memakai kartu tanda pengenal lagi. Dan kami pun digiring menuju meeting room. Di meeting room sudah terhampar berbagai macam snack, minuman, dan beberapa kotak makan. Cihuiii! Langsung deh, kami yang sudah kelaparan menghampiri makanan2 yang ada..hohoho :))

Mbak Hesti di meja kerjanya di BC

Selesai makan siang, Keith Davies masuk ke dalam ruang meeting, dan kami pun berkenalan. Keith adalah orang yang hangat dan sangat ramah. Beliau bisa berbahasa Indonesia sedikit2, tapi tentu saja lebih nyaman untuk menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggris Keith tidak terlalu cepat, jadi bisa saya pahami dengan baik apa yang ia katakan. Keith banyak bercerita tentang Inggris, terutama Luton, tentang makanan, cuaca, dan beliau agak kaget dengan jumlah uang saku yang akan kami dapatkan nantinya. Hahaha, semoga ditambahin deh ^^

Kami bersama Keith Davies

Setelah berbincang2 beberapa saat, datanglah Hugh (saya lupa nama belakangnya, tapi sepertinya bukan Grant kok ^^) dan ia memperkenalkan dirinya. Saya agak susah memahami bahasa Inggrisnya, karena aksen British yang sangat kental dan ia berbicara cukup cepat. Mungkin karena Ia belum selama Keith, yang sudah tinggal puluhan tahun di Asia. Setelah berbincang sebentar, Keith dan Hugh lalu pamit karena ada urusan. Sesi berikutnya adalah Mas Fajar yang akan membantu kami dalam Pre-Departure Course. Sebelumnya, kami dibagikan notes+pulpen+pembatas buku dari British Council. Yay! Bagus lhooo…

Kembali ke Mas Fajar, ia bercerita banyak hal tentang UK, dan sharing tentang ketika kami di bandara. Barang2 apa saja yang seharusnya kami bawa atau tidak, tas apa yang kami pakai, apa saja yang harus kami siapkan ketika di imigrasi, bahkan sampai pakaian apa yang sebaiknya kami kenakan ketika kami di bandara dan di atas pesawat. Menyenangkan sekali mendengar cerita2 tambahan dari mas Fajar, tentang pengalamannya sewaktu kuliah di UK (bersama istrinya ^^). Mas Fajar pun tak bisa berlama2 dengan kami.

Setelah Mas Fajar meninggalkan ruangan, datanglah Mbak Pipit membawakan kami brosur British Council Champions. Champions adalah orang2 yang memberikan kontribusi positif kepada komunitas. Woww, para champions benar2 champion dalam kehidupan mereka. Kata Mbak Pipit, kami juga bisa menjadi salah satu champion itu nantinya. Mendengar itu, kami semua menjadi sangat bersemangat. Gimana ngga semangat kalo bisa disandingkan dengan orang2 hebat dari berbagai bidang itu. Lalu, Mbak Pipit menawarkan kami untuk media visit. Tanpa babibu kami langsung mengiyakan, dan kami semakin bersemangat! Mbak Pipit mengatakan akan menghubungi Jakarta Post, Trans Corp, dan Femina Group, kira2 mana yang mempunyai waktu untuk menerima kami di kantor mereka. Horeee!

Setelah Mbak Pipit berpamitan, giliran Mbak Faye dan Mas Firman yang berkenalan dengan kami. Lagi2 kami ditanyai kenapa kami pengen ikut GX. Nantinya Mbak Faye dan Mas Firman akan membantu kami sewaktu di Jogja, jika nantinya (semoga tidak) terjadi masalah2 yang membutuhkan second opinion. Setelah itu, Mbak Hesti pun memberikan briefing untuk pengurusan visa keesokan harinya. Kami pun mengeluarkan dokumen yang kami perlukan untuk besok, untuk dicek kelengkapannya seperti, paspor, kartu C1,akte/ijazah,online application,dsb. Ternyata ada yang kurang ini, kurang itu, belum isi ini itu, belum fotocopy, dan otomatis keadaan menjadi sedikit rusuh.

Setelah semua beres, Mbak Hesti pun membagikan kami voucher taksi untuk kami pulang dan untuk besok berangkat ke kantor BC. Kami akan Check Out dari wisma keesokan harinya, jadi kami akan membawa barang2 kami ke kantor ini baru menuju Plaza ABDA tempat mengurus visa. Tapi sebelum kami pulang, Mbak Hesti mengatakan bahwa uang yang akan digunakan untuk mengurus visa belum sampai, dan masih di Beijing. Kata Mbak Hesti, banyak2 berdoa supaya uang sudah sampai besok, karena kalo tidak mungkin pengurusan visa akan ditunda. Waduh! Gawat! Lalu kami pun meninggalkan kantor BC.

Sebelum pulang, saya, Mazia, dan Mbak Icha mampir ke kamar mandi. Setelah beberapa saat di kamar mandi, kami pun menuju lift. Tapi ternyata semua orang sudah turun. Kami ditinggal. Sampai di lanatai bawah saya baru ingat kalau tadi pagi saya tidak menukar ID card dengan kartu pass, yang artinya saya tidak bisa keluar tanpa kartu pass itu. Mampus! Entah kenapa saya punya ide, jadi saat mazia sudah melewati portal, kartunya saya pakai. Stupid, i know. Bener aja, begitu saya tempelkan kartu di sensor, portal tidak bergeming. Uh oh! Saya udah lemes, dan saya didatengi sekuriti, nanyain kartu saya mana. Untung ada Ichol yang nyelametin saya. Ichol bilang sama sekuriti kalo saya rombongan British Council, dan saya pun dibukakan gerbang kebebasan portal menuju keluar.. legaaaa >,< thanks ichol, you saved my day ^^

When Shrek 3D Meets (Sok) Famous People 

Setelah mendapat taksi, tujuan kami berikutnya adalah, SENAYAN CITY!! Yeahh, sesuai rencana, kami akan menonton film 3D. Saat itu pukul 5 sore, dan kami sudah mendapat tiket untuk menonton Shrek 3D yang jam 20.00.. Sementara yang lain Sholat Magrib, Saya, Denty, Vando, Mbak Icha dan Denis menunggu di food court. Saat itu saya sedang malas makan. Dan yang lain selain saya dan Mbak Icha memesan Bakmi GM, dan saya tidak kepengan sama sekali. Saya makan di wisma saja, yang akan menyiapkan makan malam sampai jam 10 malam karena kami mau nonton dulu.  Berhubung saya haus, saya pun pergi membeli air putih ke supermarket dengan Vando. Haduh, dimana ya? Tanya satpam, tapi kok katanya ga ada? heee, Mall segede ini ga ada supermarketnya? Ternyata, bapaknya salah denger, dikira kami nanya apa di lantai ini ada supermarket. Haduuuh, bapaak. Ternyata supermarket ada di lantai paling bawah huhu.. Saya dehidrasiii!!!

Singkat kata, sampailah kami kembali ke food court, disana, teman2 yang tadi sedang sholat sudah kembali dan sudah selesai makan. Saat saya duduk lewatlah 2orang di tengah2 foodcourt. It’s Tyas Mirasih and her boo Tria Cangchutters hoho, si Yogi yang entah dari mana sampai memutar badan 180 derajat saat melihat Tyas (atau malah karena melihat Tria? hahaha). Beberapa saat kemudian kami mulai bermain kartu, dan Mbak Icha mulai heboh, “ehh,, itu kan artis VN (lebih baik disamarkan -__-)” dan benarlah, si VN ini datang bersama teman2nya yang katanya ada artis lain juga, dan duduk di meja sebrang kami. Aduuh, saya ge ngerti dehh. Ga pernah liat TV nii ^^”

Menjelang jam 8 kami pun menuju XXI, studio berapa saya lupa. Begitu di dalam studio, kami dibagikan kacamata 3D. JSYK, ini pertama kalinya saya nonton 3D. Emm, pernah sih, tapi ga pake kacamata. Jadi gatau sensasinya film 3D, Hohoho.  Sebelum Shrek dimainkan, ada iklan untuk film Despicable Me. Huwaaa,, norak saya mulai keluar dehh begitu mulai keluar gambar. Semua ‘hampir’ nyata, seperti adegan naik rollercoaster di film Despicable Me, Kuda2 yang bergerak cepat dan serpihan bunga2 api (yang ingin saya tangkap, tapi saya tertipu) di Shrek. Saya sangat menikmati filmnya, yang mungkin kalau bukan 3D akan terasa biasa saja ^^. Di sebelah saya, Mazia berdecak mengagumi Soundtrack yang bagus.

Selesai film, saya dan Mazia sudah keluar studio, tapi teman2 yang lain masih di dalam. Ternyata mereka masih foto2 di dalam. Huhu, saya ga diajak. Setelah semua berkumpul, kami pun turun untuk pulang. Sambil jalan, kami masih membicarakan tentang film tadi. Euforia setelah menonton film 3D masih terasa, apalagi bagi saya yang bari pertama kali.

Sewaktu sampai di lantai 1, keusilan pun terjadi (lagi). Saat ichol berjalan di depan menuju eskalator, kami berhenti, sehingga Ichol berjalan sendirian. Saat Ichol merasa ada yang salah, iapun menengok ke arah kami yang agak jauh di belakang -Disinilah bencana terjadi- Kami pun melambaikan tangan ke arah ichol. Tapi sial, tepat di belakang Ichol, lewatlah si artis VN dan teman2nya yang menuju eskalator sambil menengok ke arah kami. Mbak Icha yang melihat duluan, dan berkata “ehh, jangan dadah2! itu ada VN >,<” dan saya pun berhenti melambaikan tangan dan bersembunyi di belakang Denty yang masih belum sadar dan masih melambaikan tangan. Di eskalator, posisinya si VN dan teman2 ada di depan kami sehingga mereka sampai di bawah duluan. Ketika mereka sudah di bawah dan kami masih di eskalator, VN dan teman2nya melihat ke arah kami sambil senyum2 geje dan saya langsung memalingkan muka, eneg. OMG, jangan bilang mereka mengira kami melambaikan tangan ke arah mereka?!?!?! NOOOOO, dear, kami melambaikan tangan pada artis kami, Ichol😛 dan rasanya oh-sangat-menyebalkan melihat muka mereka. Eeeewww…

Kami kembali ke wisma dengan jalan kaki seperti biasa, dan film 3D sudah hilang bekasnya, digantikan rasa sebal kami kepada si VN tadi huuuft.. Ditengah jalan, Mbak Icha ingin mampir apotek. Jadilah saya dan Yogi menemani. Ternyata apotek tutup dan kami sudah ditinggal teman2 yang lain. Jadilah kami bertiga berjalan, dan aneh2nya kami malah cerita hal2 yang seram >,<

Kami pun melewati rumah cantik dan boneka seram kemarin, dan masih saja menyeramkan. Kenapa harus memajang boneka di jendela sih? Paling gak, simpanlah bonekanya waktu malam TT.. Dan akhirnya kami pun sampai di wisma, dan langsung menuju ruang makan untuk makan malam. Dan kami mendapat kabar kalau uang untuk visa masih belum datang, dan Mbak Hesti dan Mas Mumu akan mencari pinjaman kalau besok belum sampai juga uangnya.

Di kamar, saya sudah bersiap untuk tidur. Tetapi saya mendadak tidak merasa ngantuk lagi karena Denty menceritakan pada saya banyak hal mulai dari kegiatannya di PKBI sampai pengalamannya di UNFPA yang menakjubkan. Woww, saya iri sekalugus kagum dengannya. Ia seusia dengan saya (lebih muda beberapa bulan sih ^^) namun pengalaman yang ia dapatkan sungguh sangat banyak dan menakjubkan. Entah mengapa saya, yang cuma sebagai temannya, merasa bangga mampunyai teman seperti Denty. She’s one of a kind ^^ dan perbincangan kami harus diakhiri pada pukul 1 pagi karena besok pagi2 kami sudah harus check out dari wisma.

Mengurus Visa

Esok paginya, kami sampai di BEJ dengan bawaan banyak, seperti mau kemping. Sekuriti BEJ sampai heran melihat bawaan kami yang banyak. Bingung bagaimana memeriksanya, apalagi melihat tas gunung milik Denis. Untungnya semua lancar2 saja. Ketika saya sudah mendapat kartu Pass, saya pun melenggang melewati portal dengan mudahnya. Dan saya menyimpan kartu itu sebaik2nya karena kalau hilang saya harus mengganti 12oribu rupiah, dan itu bisa untuk main ke dufan ^^

Sampai di kantor BC, kami mendapat kabar baik bahwa uang yang akan digunakan untuk membayar visa, dan me-reimburst tiket kereta kami sudah datang!!! Dan kami pun langsung menuju Plaza ABDA yang terletak 3 blok dari BEJ dengan jalan kaki. Sampai di Plaza ABDA lagi2 kami harus menukar ID card kami dengan kartu pas. Saya jadi semakin terbiasa dengan hal ini. Artinya saya sudah siap kerja di daerah Sudirman? HAHAHAHA -__-

Kantor Visa UK terletak di lantai 22 Plaza ABDA, di lantai yang sama dengan Visa Canada. Begitu kami akan memasuki ruangan, kami disuruh menunggu sebentar oleh satpam. Ternyata di dalam sudah banyak sekali orang yang antri. benar.benar.BANYAK! Akhirnya tiba giliran kami masuk. Dan sudah tidak ada kursi yang kosong lagi. Saya heran, apakah orang sebanyak ini (plus kami ber 11) akan pergi ke UK semua???

Akhirnya saya berdiri di belakang. Saya agak malas untuk melakukan apa2, karena hawa sangat panas dan pengap, berbagi oksigen dengan orang2 lain termasuk Sutrisno Bachir sekeluarga dan pasangan Surya Saputra-Cynthia Lamusu. Tapi kemudian teman2 mengajak saya bermain. Awalnya Denty, Yogi, Mbak Icha, Hambar, dan saya hanya bermain sobyong, lalu kemudian merembet bermain hompimpa yang ternyata adalah permainan truth or dare truth terselubung. Hahaha, selama bermain, kami benar2 membuat ribut di dalam ruangan yang pengap itu. Mungkin banyak yang sebal karena kami ribut. Tapi biarlah, kami juga tidak ada kerjaan lain karena kami tidak boleh menghidupkan HP dalam ruangan itu. Keributan kami mengakibatkan Mbak Hesti geleng2 kepala karena pasrah kami sudah tidak bisa dibuat diam setelah diingatkan beberapa kali. Maaf >,<

Kami sampai di tempat visa pukul 10 dan kami baru dipanggil untuk memasukkan aplikasi sekitar pukul 3 sore. Padahal hari ini juga kami seharusnya di jadwalkan untuk briefing tentang asuransi, dan sore ini juga saya seharusnya kembali ke tempat Bude untuk mengambil tas yang tertinggal. Tapi ternyata kami harus kembali ke wisma PKBI karena kami masih harus mengurus asuransi keesokan harinya. Akhirnya saya pun memberi kabar pada Bude untuk menjemput saya besok sore. Beliau bertanya kapan saya pulang, dan saya memutuskan untuk kembali kamis sore, dimana seharusnya saya kembali Rabu sore. Yakk, saya memutuskan untuk extend, dan nanti sore bersama2 dengan Mazia akan mengganti tiket kereta di Stasiun Gambir.

Selesai mengurus visa kira2 pukul 4 sore. Kami sudah sangat capek dan lapar karena belum makan siang. Jika sudah begini, saya biasanya suka males, lemes, dan ga konsen. Begitu sampai di BEJ, dan menuju ke portal, karena saya ga konsen, ntah bagaimana saya salah masuk portal yang harusnya untuk keluar tapi malah saya pakai untuk masuk. Dan kebetulan saat itu ada yang mau keluar juga, tapi saya ga liat dan tetep aja masuk. Saya baru sadar ketika saya hampir kejepit portal. Yakk, saat saya hampir melewait portal, tiba2 portal menutup dan kaki saya sukses nabrak portal. Dan saya dengan suksesnya kena marah Mbak2 yang mau keluar itu dan Satpam. Huhuhu, saya langsung kabur lewat portal yang seharusnya dengan masih deg2an >,<

Sampai di meeting room, kami pun langsung makan, setelah itu saya, Mazia, dan Denty misah dari rombongan. Saya dan Mazia akan ke Stasiun Gambir untuk extend tiket kereta dan Denty akan ke Dephan menemui ayahnya. Rencananya kami akan naik Busway, tapi berhubung ternyata hujan deras, jadilah kami saweran naik taksi. Setelah mengantar Denty ke Dephan, kami berdua langsung ke Gambir. Setelah extend tiket (yang harus nambah duit 30ribu rupiah) kami memutuskan untuk langsung kembali ke wisma. Kami mencari halte busway, dan hujan makin deras. Akhirnya kami memutuskan kembali dengan Taksi. Kami melewati daerah padat hingga terjebak macet cukup lama.. huhu, udah deg2an moga2 argonya ga banyak2 banget >,< Saya agak lupa jalan menuju wisma, jadi kadang kami hampir salah masuk menuju jalan searah. Waduh.. Untung Mazia menemukan Circle K dan kami memutuskan berhenti di CK dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Saat itu pukul 7 malam, dan lagi2 kami harus melewati rumah yang ada boneka seram itu. Ternyata ketika kami lewat depan rumah, si pemilik rumah sepertinya baru saja sampai di rumah mereka. Hei, boneka itu menjadi tidak seseram hari2 kemarin. Dan entah kenapa saya menjadi lega ^^

Sampai wisma, saya langsung menuju kamar 210, kamar saya malam ini dengan Mbak Nisa karena Denty dan Denis tidak menginap di wisma malam ini. Sebenarnya, saya diajak untuk ke Grand Indonesia oleh Mbak Icha, tapi saya sangat capek saat itu, dan tidak ada mood untuk nge-mall, jadilah malam itu saya di kamar saja nonton Miss Indonesia bersama Mbak Nisa dan Vando (yang ditinggal oleh soulmatenya, Yogi). Sepertinya malam itu saya tidur cepat karena terlalu capek.

Media Visit. YAY!

Besoknya, lagi2 kami melalui ritual pagi kami di BEJ dan bisa saya lalui dengan sukses😀

Agenda hari ini adalah briefing mengenai asuransi. Sebelumnya Mbak Anggie menanyai kami tentang blog yang kami punya, yang nantinya akan menjadi media penyampaian info kepada masyarakat tentang kegiatan2 kami. Cihui, blog kami bisa dibaca banyak orang nantinya ^^

Setelah briefing Asuransi, Mbak Pipit memberi kabar bahwa kami akan media visit ke Femina Group!!!! YAYYY!! Kata Mbak Pipit, Trans Corps dan The Jakarta Post sedang sibuk, jadi tidak bisa menerima kedatangan kami hari itu.. wahh, gapapa Mbak Pipit.. Femina Group kan OKE juga ^^

Berhubung mobil BC ga cukup buat menampung kami semua, maka rombongan dipisah menjadi 2, yang naik mobil BC dan yang naik Taksi dengan Mbak Pipit. Saya dan beberapa teman ikut mobil BC.

Sampai di Femina, kami langsung di antar menuju ruang pertemuan. Di sana kami di sambut Pimred Femina Group. Beliau bercerita banyak hal tentang Femina dan Majalah2 dibawah naungan Femina Groups. Dan tibalah sesi pertanyaan dimana kami mengajukan banyak sekali pertanyaan.

Setelah banyak pertanyaan, kami pun diajak berkeliling gedung2 Femina Groups, sekitar 3 gedung. Dan kami pun mampir ke beberapa redaksi majalah seperti CLEO Indonesia dan Readers’ Digest.

foto2 dulu di depan poster RDI

Di CLEO kami bertemu dengan redaksi, Mbak Ein dan Mbak Pippi. Disini, selain kami bertanya banyak hal, kami juga ditanyai mengenai keikutsertaan kami di GX, dan mereka sangat tertarik dengan kegiatan ini.

ngobrol2 dengan Mbak Ein dan Mbak Pippi

Berhubung deadline majalah sudah dekat, maka Mbak Ein tidak bisa menemani kami lama2. Dan kami diantar Mbak Pippi melihat2 kantor redaksi, dan proses pembuatan majalah. Whoaaa, sangat menyenangkan!

Redaksi Readers’ Digest juga sangat ramah, mereka bersedia menjawab banyak pertanyaan kami. Hebatnya RD, redaksi hanya terdiri dari 5 orang! Bayangkan 5 orang mengisi sebuah majalah yang sangat inspiratif. Saya sangat beruntung bisa bertemu redaksi Femina Groups, CLEO, dan Readers’ Digest yang mau menyambut kami ditengah Deadline. Kami bahkan mendapat setumpuk majalah yang masih baru :)

goodiebag majalah2 dari CLEO, Readers’ Digest, dan Cita Cinta

Jakarta ituuu.. MACET!

Sepulang dari kantor Femina sudah pukul 4 sore. Saya agak panik karena Pak Rasyid katanya akan menjemput saya pukul 3 sore untuk menghindari 3in1. Sampai kantor BC kami masih mengadakan tes untuk evaluasi menjelang mulai program. Yang menjawab paling banyak mendapat hadiah dari Mbak Hesti. Waduh, jawaban saya ga ada yang bener, haha.. Dan hadiah jatuh ke tangan Hambar yang mendapat sebatang cokelat. Saya pun buru2 pamit karena tak enak dengan Pak Rasyid.

Saya lalu SMS Pak Rasyid kalau saya sudah selesai dan menunggu di tempat penjemputan. Waahh, jam pulang kantor ternyata bisa lebih ramai daripada berangkat kantor. Parkiran Pacific Place yang terletak di seberang BEJ pun hampir penuh. Agak lama saya menunggu Pak Rasyid, hingga akhirnya datang juga ^^

Sepertinya saya salah memilih jam pulang -___-.. Pak Rasyid yang sudah mengenal Jakarta luar dalam padahal sudah mencari jalan2 alternatif. Tapi sepertinya semua orang ada di luar rumah. Beneran deh, di mana2 macet. Kata Pak Rasyid, hal ini sudah biasa. Astagaaa, saya bisa stress kalo kaya gini terus >,<

Setelah mengisi bensin (di Pertamina, karena Shell dan Petronas mahal banget kata Pak Rasyid), kami pun melanjutkan perjuangan menembus kemacetan Jakarta. Untungnya Pak Rasyid banyak cerita tentang macam2 hal, mulai dari Banci Taman Lawang yang ga mau saingan sama cewek (bisa digebukin katanya kalo ada cewek main di daerah mangkal mereka) sampai hantu terowongan Casablanca yang percaya ga percaya itu. Wahh, perjalanan 2jam di mobil sampai pantat tepos sedikit ringan karena mendengar cerita beliau. Dan tanpa terasa (eh, terasa sih pegelnya) akhirnya saya sampai rumah bude dengan selamat ^^

Surprise, Surprise!!

Sampai di dalam, rumah Bude dalam keadaan kosong. Sepertinya orang2 belum pulang ke rumah. Saya pun langsung masuk ke kamar kemarin dan menata pakaian untuk di pack ke tas gunung, lalu mandi. Selesai mandi, Bude memanggil saya. Rupanya beliau sudah pulang. Dan Bude pun memberi saya kejutan bahwa sudah dipesankan tiket pesawat pulang ke Jogja oleh Pakde. O-M-Gee. Saya sukses dibuat terkejut oleh Pakde dan Bude. Ternyata itu adalah tiket jatah dari kantor Pakde, dan Pakde sudah mengusahakan untuk saya. Yasudah, berarti saya tidak jadi pulang naik kereta. Saya segera menghubungi ibu saya dan Mazia kalau saya sudah dipesenin tiket pesawat. Mazia santai saja. Fiuhh, Soekarno Hatta, Here i come! Setengah lima pagi saya sudah harus berangkat berarti saya harus tidur secepatnya.

Selang beberapa saat ibu saya menelpon, katanya:

Ibu: Kamu besok harus pake baju yang bener ya. Itu kmu besok ke Halim Perdana Kusuma barengannya temen2 kantor Pakde, jadi jangan malu2in

saya: ha? HALIM PERDANA?? bukannya itu cuma buat presiden?

ibu: iyaa, itu pesawatnya emang disitu.

saya: GYAAAA XDDDD sekali seumur hidup!!! *udik mode: on*

karena saya masih ga percaya, saya pun turun menemui bude. Dan memastikan, ternyata saya benar2 akan ke bandara Halim.. Dan Bude saya bilang,”kamu besok bilangnya anaknya Pakde ya, soalnya itu tiketnya cuma boleh untuk keluarga aja” hoaa, tambah deg2an lah saya. Malam itu saya malah bercerita (lebih ke diceritain sihh) banyak dengan Bude. Quality time with her🙂

Besoknya saya bangun pukul setengah 4. Dan saya langsung cuci muka sikat gigi (ga usah mandi, kata Bude). Dan saya pun berangkat bersama Pakde yang akan ke Bali (tapi melalui Soeta). Pak Rasyid yang berpikir saya pulang malamnya lewat Gambir kaget. Dan saya hanya bisa tersenyum. Hahaha, setelah berpamitan dengan Bude (dan dibawain banyak oleh2), kami pun berangkat. Subuh2 Jakarta sangat menyenangkan, sepiiiii, lengang, dan tenang. Halim Perdana Kusuma yang relatif dekat, ditempuh dalam waktu singkat. Saya pun berpamitan dengan Pak Rasyid.

Di tempat check in, saya semakin deg2an. Gimana kalo saya ketauan bukan anaknya Pakde? Aduhh, yaudah dehh, tinggal naik taksi balik ke rumah Bude dan naik kereta malamnya. Tapi ternyata saya lolos dengan sukses. Dan saya pun berpisah dan pamit dengan Pakde.

Sampai di tempat tunggu pesawat sekitar pukul 5.20, dan saya disuguhi makanan dan minuman. whoaa, jarang2 saya dapat pelayanan VIP begini ^^

Jam 6 kurang saya sudah ada di dalam pesawat. Jogja here i come ^^

Note: Ini adalah cerita lanjutan dari https://gingerbreadandtea.wordpress.com/2010/06/08/jakarta-itu-keras-bung-part-1/. Banyak yang bertanya-tanya, apa hubungannya sama judulnya? Well, “Jakarta itu keras, Bung!” sering diucapkan saat kami berada di Jakarta, dan entah mengapa saya merasa kalimat ini pas dengan keadaan kami di Jakarta. Antrian dimana-mana, macet parah, apa-apa serba mahal, kehidupan perkantoran yang sangat sibuk dan keamanan yang super ketat, dan lain sebagainya. Kehidupan di Jakarta memang keras, tapi saya merasa enjoy, karena saya tidak sendiri dan banyak orang2 baik hati yang membantu saya selama di Jakarta. Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya kepada:The British Council yang menyelenggarakan acara ini dan membiayai hampir seluruh kegiatan dan akomodasi kami selama mengurus MCU dan Visa, serta meng-arrange media visit ke Femina Group; Mas Mumu dan Mbak Hesti yang selalu mengurus segala keperluan kami selama program GX berlangsung hingga selesai nanti; Pakde Bude saya sekeluarga yang sudah mau menerima saya dan teman2 tinggal di rumah beliau selama masa main2 kami di Jakarta dan menyediakan kami makanan yang sangat2 enak untuk kami, menraktir saya dan teman2 masuk ancol, mengantar jemput kami di dufan, dan yang sudah banyak saya repoti ini itu, sampai2 saya bisa pulang ke Jogja dengan pesawat. Teima kasih banyak! Pak Rasyid yang sudah mau mengantar-jemput saya dan teman2 kemana2, mencari wisma PKBI, dan banyak bercerita segala sesuatu tentang Jakarta dan pengalaman2 beliau; Karyawan British Council  yang sudah kami (eh, saya) ganggu kehidupan kerjanya selama kurang lebih tiga hari mondar mandir keluar masuk kantor BC: Keith Davies dan Hugh yang sudah bersedia menerima kami di kantor BC dan bercerita sedikit banyak tentang UK, Pak Untung (Satpam) dan ibu satpam yang sudah sangat sabar untuk membukakan kami pintu saat kami datang, pulang, dan saat kami kebelet ingin ke kamar mandi, Mbak resepsionis yang kami rusuhi saat foto2 depan logo BC, Pak Office Boy yang membawakan kami makanan, minuman, dan memfotokopikan dokumen2 kami, Bapak Sopir yang mengantar kami ke kantor Femina, Mbak Faye, Mbak Anggie, Mas Fajar dan Mas Firman  yang sudah berbagi banyak cerita dengan kami, Mbak Pipit yang meng-arrange kunjungan kami ke Femina Group dan menemani kami2 ini keliling kantor Femina; Femina Group, Cleo Magz, Readers’ Digest, dan karyawan yang sudah menerima kunjungan kami dengan sangat baik di kantor Femina dan mau berbagi banyak cerita tentang kehidupan majalah, menjawab banyak pertanyaan2 penuh ingin tahu kami tentang majalah, dan meng-encourage kami untuk menulis; last but not least: my Global XChange friends (Ichol, Hambar, Vando, Icha, Nisa, Yogi, Denis, Mazia, Denty) — teman perjalanan saya selama saya di Jakarta. Perjalanan ini akan sepi dan ga lengkap tanpa kalian. THANK YOUUU!!

PS: saya bukan penggemar berat Justin Bieber atau apa, tapi entah mengapa selama perjalanan hingga pulang, lagu itu yang terus menerus diputar dimana-mana, setiap hari. Akhirnya lagu itu jadi terngiang2 di otak saya, hingga membuat saya menyanyikannya dengan semangat saat karaoke. Ironis, padahal saya tidak suka Justin BIBIR😦

PPS: Hasil MCU sudah saya terima dan hasilnya saya FIT!! Thanks God! Visa dan Paspor pun sudah sampai ke tangan saya. Perjalanan kami akan dimulai beberapa hari lagi. Penasaran apa itu Global Xchange, kok saya bisa ikut GX, Perjalanan kami selama program berlangsung, dsb? ikuti terus blog saya🙂

Thanks for reading, Guise! Semoga tulisan saya yang terlalu panjang ga bikin bosen dehh *worried*

Cheers

4 thoughts on “Jakarta Itu Keras, Bung! -Part 2-

  1. pertamax gan!!!
    akhirnya dilaunching juga lanjutan cerita yang kemarin.
    Keren tik…piye rasane numpak pesawat?aku yo pengin, huhuhu…
    Well, ikuti juga kisah seru di blog saya, hahahha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s